Tiga Puisi Tentang Kehidupan dan Makna | Karya Nurwahidah Bi

Tiga Puisi Tentang Kehidupan dan Makna | Karya Nurwahidah Bi


Hai, pembaca Estetika Diri, selamat datang kembali di blog yang akan mengarsipkan puisi-puisi Kak Bi.

Puisi selalu punya cara unik untuk berbicara tentang hidup. Kadang lewat kisah fiksi, kadang lewat perenungan sederhana yang terasa sangat dekat dengan keseharian.

Dalam tiga puisi kali ini, Nurwahidah Bi mengajakmu menyelami beragam rasa. Mulai dari semangat seorang gadis yang tak mau hidup dalam dongeng, perjalanan jiwa mencari cahaya, hingga cinta lembut untuk makhluk kecil yang berbulu.

Mari menelusuri makna di balik tiga puisi berikut: Bukan Putri Tiana, Menuju Cahaya dan Makhluk Tuhan Paling Berbulu.


***


1. Bukan Putri Tiana-Nurwahidah Bi

Terinspirasi dari kisah The Princess and The Frog, puisi “Bukan Putri Tiana” menghadirkan sosok perempuan realistis yang menolak hidup dalam bayangan dongeng.

Melalui diksi sederhana namun jujur, penyair menggambarkan semangat dan kemandirian tentang perempuan yang memilih bekerja keras dan berjuang mewujudkan impiannya, bukan menunggu keajaiban datang seperti dalam kisah putri kerajaan.

Puisi ini menjadi simbol keteguhan hati dan refleksi diri tentang arti menjadi “putri” di dunia nyata.


Bukan Putri Tiana

Aku tak punya waktu untuk memanggang

Aku pun tak punya waktu untuk menari

Aku bukan Tiana yang punya teman cantik hobi berkacak pinggang

Aku hanya gadis yang terkadang digerogoti rasa iri


Aku harus menunggu lama demi impian

Tidak punya waktu untuk main-main

Tapi, sebenarnya lebih suka santai dan berlarian

Sambil sesekali mengambil jalan yang mudah nan dingin


Bukan kota tua ini yang memperlambat

Langkahku yang tak seringan tarian Tiana-lah yang aneh

Terkadang aku berharap bertemu jodoh tertambat

Tapi, bukan jodoh seperti milik Tiana yang aneh


Meski aku tahu persis kemana arah cerita cinta Tiana

Bertemu kodok, jelmaan sang pangeran

Aku tidak ingin, orang-orang di sini mengira aku gila karena terlena

Terlena pada harap tentang jodoh bak pangeran


Aku bukan Tiana, yang menjadi putri karena menikahi pangeran

Bagianku yang mirip dengannya hanya cobaan dan kesengsaraan

Kebahagiaan Tiana dalam hidupku belum tidak terpikirkan

Bahkan tak pernah terbayangkan


Meski ayah bilang, dongeng bisa menjadi kenyataan

Tapi, aku harus mewujudkannya kan?

Nah, aku lebih suka mencari tantangan

Menikmati proses meski memusingkan


Daripada berharap bertemu kodok, karena Tiana bukan aku

Aku akan bekerja keras setiap hari

Agar semuanya berjalan sesuai keinginanku

Mendaki gunung dan seberangi sungai sesuka hatiku.


Gorontalo, 15 Oktober 2022


***


2. Menuju Cahaya-Nurwahidah Bi

Puisi “Menuju Cahaya” coba menggambarkan perjalanan batin dari kegelapan menuju harapan. Dalam larik-lariknya, tergambar rasa lelah, marah, dan putus asa yang akhirnya perlahan digantikan dengan ketenangan dan semangat baru.

Karya ini memancarkan pesan spiritual dan reflektif bahwa setiap manusia, seberapa rusak atau hancur pun jiwanya, selalu punya peluang untuk menemukan cahaya.

Bahasanya sederhana namun bermakna dalam, seperti bisikan lembut bagi siapa pun yang sedang berjuang keluar dari gelap.


Menuju Cahaya

Ruang-ruang gelap

Tak bisa diharap

Walau kaki berderap-derap

Sudah telanjur kalap


Kalap pada amarah

Amarah akan resah yang tak terarah

Kelam dan sunyi membuat gerah

Sehingga mata buta akan arah


Secercah cahaya memanggil

Memanggil jiwa rusak yang menggigil

Tanpa ragu bersedia dipanggil

Ke hadapan kisah-kisah yang tidak mungil


Jelas

Cahaya berbekas

Pada dinding berkelas

Pada ragu yang dipangkas


Tertuju

Cahayanya laju

Menembus baju-baju

Menembus ragu memaksa maju


Perlahan

Berjalan menuju lorong kesalahan

Meninggalkan putus asa yang tak berkesudahan

Menuju cahaya penuh pengharapan


Menuju cahaya, melangkah pasti

Tak ada yang menahan, karena sering menaati

Setelah semua rasa telah patah hati

Secercah cahaya jadi harapan yang tak mati.


Gorontalo, 16 Oktober 2022


***


3. Makhluk Tuhan Paling Berbulu-Nurwahidah Bi

Didedikasikan untuk para pencinta kucing, “Makhluk Tuhan Paling Berbulu” adalah puisi ringan dan menggemaskan yang menampilkan sisi lembut dari kehidupan sehari-hari.

Dengan diksi lucu dan penuh kasih, penyair menggambarkan tingkah laku si anabul yang manja, nakal, tapi tetap dicintai.

Puisi ini tak hanya tentang hewan peliharaan, tapi juga tentang kasih tanpa syarat. Bagaimana seekor kucing bisa mengisi ruang hati manusia dengan tawa dan kehangatan.

Puisi ini menjadi pengingat bahwa tepat sebulan lalu, salah satu sang inspirator "Kyumi" telah menghilang dan tepat setahun juga "Ribon" pergi.


Makhluk Tuhan Paling Berbulu

Mata bulat, pupil riang sesuka hati

Hidung kecil, dingin di pagi hari

Ekor panjang, menyentuh kaki

Ekor pendek, bengkok, buntung sesuka hati


Gigi kecil, taring terselip

Bulu-bulu lembut, kadang kutu mengintip

Kumis manis, bukan milik si tukang ngintip

Kerlingan matanya kerlap-kerlip


Telinga tegak pertanda waspada

Telinga turun, kalau habis diomeli tetangga

Siapa suruh lemari dibuka-buka

Kadang bawa sepotong dua potong ikan ke rumah


Bokong ke kiri, lalu ke kanan

Menarget mangsa sebagai makanan

Kadang tidak dimakan, hanya dimainkan

Atau dibawa ke babu sebagai hadiah-hadiahan


Ini adalah makhluk Tuhan paling berbulu

Telapak kakinya imut, tak ingin berlalu

Tepuk-tepuk dekat ekornya selalu

Si anabul akan berguling-guling sampai ke hulu


Oh, makhluk Tuhan paling berbuluku

Tetaplah sehat dan imut walau kadang bikin naik darah tinggiku

Bawa masuk, kadal, cecak dan anggap aku babu

Aku masih rela bersihkan pipis-pipis dan kotoranmu


Gorontalo, 18 Oktober 2022


***


Setiap puisi karya Nurwahidah Bi punya nuansa dan pesan yang berbeda, namun semuanya berbicara tentang kehidupan, perjuangan, dan cinta dalam bentuk yang paling sederhana.

Dari keteguhan seorang gadis yang tak ingin hidup dalam dongeng, hingga kehangatan seekor kucing di pagi hari, semuanya menunjukkan bahwa makna hidup bisa ditemukan di mana saja.

Jika kamu menyukai puisi bertema kehidupan, refleksi, dan kisah keseharian, jangan lupa kunjungi blog Estetika Diri atau Blog Nurwahidah Bi untuk membaca lebih banyak karya.


Artikel lainnya:


#puisi kehidupan, #puisitentangperempuan, #puisitentangharapan, #puisireflektif, #puisitentangkucing, #puisiinspiratif, #puisisastraIndonesia.


Komentar