Tiga Puisi Fantasi dan Renungan Jiwa | Karya Nurwahidah Bi

Tiga Puisi Fantasi dan Renungan Jiwa | Karya Nurwahidah Bi


Puisi selalu menjadi ruang sunyi bagi jiwa yang ingin bersuara. Dalam setiap bait, tersimpan perasaan, kenangan, dan imaji yang kadang tak bisa dijelaskan dengan kata biasa.

Melalui tiga puisi berikut; Balada Sang Putri, Bilik Bausastra, dan Menari Bersama Angan, aku; Nurwahidah Bi coba menghadirkan perjalanan batin yang sarat makna.

Dari kisah kelam seorang putri, ruang sunyi pencinta kata, hingga tarian angan di bawah langit resah, semuanya dirangkai dengan bahasa yang cukup puitis, lembut namun menggigit.


***


1. Puisi Balada Sang Putri-Nurwahidah Bi

Puisi ini terinspirasi dari film Snow White and the Huntsman. Dengan nada kelam dan simbolik, “Balada Sang Putri” menggambarkan benturan antara cahaya dan kegelapan, hidup dan kematian, cinta dan dendam.

Melalui diksi yang lirih, aku mengajak pembaca menelusuri sisi gelap dari kisah seorang putri yang kehilangan dirinya di tengah peperangan batin dan takdir yang getir.


Balada Sang Putri

Kelamlah bintang

Kelamlah rembulan

Jiwa yang tertantang

Telah menanti semalaman


Pergilah sang malam

Dan fajar meredup

Tawa cermin membuat ratu tenggelam

Kematian putri membuat ratu selalu hidup


Katakanlah ke kuda

Dan pukullah genderangmu

Menuju tempat kurcaci berada

Menanti putri dalam tidur yang jemu


Tiadalah tuannya

Tiadalah sang Surya

Terimalah sakitnya

Terimalah segala upaya


Kelamlah samudera

Kelamlah langit

Tenggelam dalam lautan darah

Tenggelam dalam pertempuran sengit


Pergilah sang paus

Samudera pun menggemuruh

Bawalah apel yang tampak mulus

Seketika putri kalah terburu


Kegelapan ke cahaya

Dan cahaya ke kegelapan

Mencipta segala upaya

Upaya untuk bertahan


Tiga gerbong hitam

Tiga gerobak putih

Yang menyatukan kelam

Yang meruntuhkan sedih


Gorontalo, 20 September 2021


***


2. Puisi Bilik Bausastra-Nurwahidah Bi

Seolah dari dalam bilik bambu sederhana, aku menulis tentang cinta pada buku, huruf, dan kata-kata.

Puisi ini merefleksikan betapa sastra bukan sekadar tulisan, melainkan pelarian, penghibur, dan guru yang membimbing jiwa. Terutama bagi mereka yang menemukan ketenangan di balik halaman-halaman sunyi.


Bilik Bausastra

anyaman dari bilah bambu, menggetarkan rindu-rindu

pada tumpukan buku, di sebuah bilik penuh risau


rentetan huruf tampak menyatu, menggeliat di depan mata yang tertuju

pada buku-buku bersampul pilu, yang telah menyatu dengan nuansa sendu


tertawa, sang buku, pada pengelana kata yang tengah meramu

merangkaikan sejuta kata pada mimpi semu, tetap giat belajar walau terjerat sembilu


tersenyum, si peramu aksara yang kaku, walau lisannya lumpuh saat manusia berseru

hanya buku dan sastra yang membuatnya lugu, kian akrab bersama lembaran buku


bilik bausastra tidak menggangu, tempat ini memberi ruang untuk sang peramu

agar puas tertawa dalam semu, dan tenggelam dalam damainya menyimak bersama waktu


menghabiskan waktu baca buku, memahami makna kata walau ragu

ini tempat yang syahdu, sebuah tempat untuk menikmati aroma buku.


Gorontalo, 09 Oktober 2022


***


3. Puisi Menari Bersama Angan-Nurwahidah Bi

Dalam “Menari Bersama Angan”, aku coba membawamu ke dunia reflektif antara mimpi dan kenyataan.

Puisi ini seperti tarian lirih antara luka dan harapan. Bagi mereka yang menari bersama angan, seolah berusaha melepaskan sepi dengan langkah lembut menuju cahaya.


Menari Bersama Angan

Malam memburu kelam

Melimpahkan rasa pada jiwa-jiwa berpayung resah

Menenggelamkan mimpi pada lautan bergaram

Membuat luka yang menganga semakin pedih terasa


Nyanyian burung menggema di perkotaan

Nama sang pemilik rasa tersebut dalam nuansa

Nukilkan waktu pada kelegaan

Niatkan angan pada tarian menuju angkasa


Menari bersama angan

Seolah senja tanpa jingga

Gelap tertutupi sepi dan awan

Yang terpantul senyap tiada guna dan menganga


Tarian seolah mimpi

Yang semakin terjebak dalam angan

Enggan bertasbih pada takdir yang sepi

Lantas, merajuk di bawah burung-burung yang beterbangan.


Gorontalo, 10 Oktober 2022


***


Puisi-puisi karya Nurwahidah Bi ini tidak hanya coba untuk menampilkan keindahan bahasa, tetapi juga kedalaman makna. Setiap bait menghadirkan emosi dan refleksi yang bisa dirasakan siapa saja.

Jika kamu menyukai tema fantasi, introspeksi, dan renungan jiwa, karya ini bisa jadi teman sunyi yang menenangkan hati.

Jangan lupa kunjungi blog dan platform lain Nurwahidah Bi untuk membaca lebih banyak karya puitis lainnya.


Bionarasi:

Nurwahidah Bi, gadis kelahiran Gorontalo yang suka genre horor dan fantasi. Hobinya rebahan, makan, nonton. Lahir di hari Halloween, dulunya pencinta pedas. Karena aslam, jadi nggak bisa makan pedas lagi deh.


Baca juga:

Komentar